BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Iklim sangat mempengaruhi dari persebaran flora dan fauna di suatu negara, perubahan iklim akan mempengaruhi keberadaan flora dan fauna baik dari segi jumlah maupun persebaran yang semakin berkurang. Iklim sendiri adalah keadaan rata-rata cuaca pada suatu daerah dalam kurun waktu yang relatif lama. Sedangkan wilayah Indonesia, memiliki iklim tropis yang sangat dikenali melalui tumbuhan yang sangat besar dan selalu hijau sepanjang tahun.
Perubahan Iklim sendiri berpengaruh terhadap flora dan fauna di daerah Indonesia. Akibatnya ada jenis-jenis flora dan fauna tertentu yang dapat hidup dengan jenis iklim tertentu. Faktor-faktor pembentuk iklim diantaranya: temperatur udara, angin dan curah hujan secara bersama-sama mempengaruhi persebaran flora dan fauna.
Dalam pernyataannya menyambut Hari Keanekaragaman Hayati Dunia yang diperingati setiap tanggal 22 Mei 2007, Menteri Negara Lingkungan Hidup, Ir. Rachmat Witoelar mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini, perubahan iklim juga telah dirasakan berdampak pada pertanian, ketahanan pangan, kesehatan manusia, dan pemukiman manusia, lingkungan, termasuk sumber daya air dan keanekaragaman hayati. Akibat nyata dampak perubahan iklim terhadap spesies sebagai komponen keanekaragaman hayati adalah berupa perubahan dalam kisaran penyebaran, meningkatnya tingkat kelangkaan, perubahan waktu reproduksi, dan perubahan dalam lamanya suatu musim tanam. Dan ini didukung oleh Laporan IPCC (International Panel on Climate Chiange) pada April 2007 tentang dampak, kerentanan, dan adaptasi pada perubahan iklim mengemukakan bahwa kurang lebih 20-30% tumbuhan dan hewan diperkirakan akan meningkat risiko kepunahannya jika kenaikan temperatur global rata-rata di atas 1,5 – 2,5 derajat celsius.
Wilayah Indonesia yang masuk pada kelompok iklim hutan hujan tropis salah satunya pulau Kalimatan yang memiliki banyak keanekaragaman hayati yang secara endemik mendiami pulau Kalimantan dan sangat dipengaruhi oleh iklim. Oleh karenanya banyak spesies makhluk hidup yang sangat rentan terhadap perubahan iklim, maka dikhawatirkan spesies yang ada akan terganggu dan mengalami kepunahan. Walaupun saat ini dari pihak Departemen Kehutanan telah memberikan status langka pada spesies yang terancam punah ternyata tak mampu memberikan dampak positif bagi kelangsungan hidupnya.
Salah satu satwa yang ada yaitu Pesut (Orcaella brevirostris) dianggap sebagai satwa yang paling terancam punah. IUCN (2002) telah memberikan status Critically Endangared (kritis terancam punah) pada jenis ini, sementara CITES telah menempatkannya pada Appendix 1 yang bearti jenis ini tidak diperkenankan untuk diperdagangkan. Pemerintah Republik Indonesia sendiri telah memberikan pengakuan atas kelangkaan dan ancaman kepunahan terhadap jenis ini dengan menetapkannya sebagai jenis satwa liar yang nyata terhadap pelestarian pesut yang habitatnya di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Disamping itu berbagai permasalahan yang menjadi ancaman bagi pesut seperti pendangkalan danau-danau Mahakam, pencemaran air, lalu-lintas air yang ramai, penurunan jumlah makanan dan penggunaan jaring (rengge).
Keberadaan pesut yang dari tahun 1975 memiliki 1000 ekor populasi dan sampai saat ini diperkirakan jumlah pesut tinggal 50 ekor di Sungai Mahakam. Pesut yang jumlahnya semakin sedikit diperkirakan ada hubungannya dengan perubahan iklim yang dapat mengganggu habitat pesut tersebut. Dan saat ini Pesut telah dilindungi undang-undang melalui Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 tentang pengawetan tumbuhan dan satwa liar.
Sebagai satwa liar yang dinyatakan terancam punah, pemberian status kelangkaan pada pesut seperti tersebut diatas ternyata belum memberikan dampak positip kepada keberadaan pesut supaya tetap lestari dan terjaga.
Dengan melihat latar belakang tersebut diatas, maka peneliti memberikan judul penelitian sebagai berikut “ Pengaruh perubahan iklim terhadap penurunan dan persebaran populasi pesut di Sungai Mahakam” Baca selebihnya »
Filed under: KARYA TULIS SISWA | Ditandai: Pesut Mahakam | Tinggalkan sebuah Komentar »